NERACA
Jakarta – Resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten rumah sakit PT Cipta Sarana Medika Tbk. (DKHH) menargetkan pertumbuhan laba bersih sebesar 191% year-on-year pada 2025. "Tahun ini, sesuai dengan rencana target berdasarkan RKAP, kita akan mencapai Rp8,2 miliar, sehingga kenaikan terhadap tahun lalu itu 191%. Insyaallah sesuai dengan rencana yang sudah disahkan oleh komisaris dan direksi, itu bisa kita capai," kata Direktur Cipta Sarana Medika, Octen Suhadi di Jakarta, kemarin.
Tahun lalu, perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp2,3 miliar pada 2024. Adapun, DKHH menargetkan laba bersih sebesar Rp8,2 miliar pada tahun ini. Selain itu, perseroan juga menetapkan target pertumbuhan pendapatan pada 2025 sebesar 19,56% dari Rp138 miliar pada 2024, menjadi Rp165 miliar sepanjang 2025.
Sepanjang kuartal I/2024, lanjutnya, perseroan telah mencatatkan pertumbuhan laba bersih. DKHH mencatatkan laba bersih pada kuartal I/2025 sebesar Rp400 juta atau bertumbuh sekitar 46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Di kuartal pertama, biasanya pasien itu sedikit. Biasanya, puncak itu setelah Lebaran. Pasca lebaran, biasanya dengan kebiasaan masyarakat Indonesia, terutama golongan menengah itu banyak yang masuk ke rumah sakit,"ujarnya.
Selama kuartal I/2025, kata Octen, perseroan juga berfokus untuk melakukan renovasi atas aset mereka. Terlebih lagi, kuartal I tidak memberikan peningkatan pasien yang signifikan. Maka dari itu, pihaknya juga menargetkan renovasi-renovasi rumah sakit bakal rampung dalam waktu yang dekat."Di awal tahun ketika pasien itu peningkatannya minimal, maka di situlah kita melakukan renovasi-renovasi. Harapannya, tanggal 15 Mei renovasi selesai, pasien meningkat, dan kita sudah mengikuti standarisasu yang ada di BPJS," katanya.
Adapun, Cipta Sarana Medika menerbitkan sebanyak 530 juta saham atau 20,78% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Dengan harga saham IPO Rp132 per saham, DKHH meraup dana hasil penawaran perdana sebesar Rp69,90 miliar. Dalam IPO, DKHH mengalokasikan sebesar 15% sahamnya untuk investor ritel atau sebesar Rp20 miliar.
Dalam periode penawaran umum saham DKHH, jumlah pemesanan yang masuk pada penjatahan terpusat mencapai Rp3,8 triliun. Artinya, saham DKHH mengalami oversubscribed sebanyak 190 kali dalam penjatahan terpusat (pooling allotment).
Kata Satria Muhammad Wilis, Direktur Utama DKHH, langkah IPO ini diambil tidak hanya untuk mendukung ekspansi usaha yang berkelanjutan, tetapi juga sebagai bentuk komitmen DKHH dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi para pemangku kepentingan.“Sebagian besar dana IPO akan digunakan oleh DKHH untuk membangun gedung baru di area rumah sakit DKH Cibadak yang berlokasi di Jl. Siliwangi No. 139, Cibadak, Kec Cibadak Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat,”ungkapnya.
NERACA Jakarta - PT PP (Persero) Tbk (PTPP) melaporkan proyek pembangunan Bendungan Manikin Paket 2 yang berlokasi di Kabupaten Kupang,…
NERACA Jakarta – Mempertimbangkan melemahnya daya beli masyarakat dan perlambatan ekonomi global menjadi alasan PT Astra International Tbk (ASII) memangkas…
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menggenjot akses dan pemanfaatan instrumen keuangan pasar modal di Pulau Dewata karena indeks literasi dan…
NERACA Jakarta - PT PP (Persero) Tbk (PTPP) melaporkan proyek pembangunan Bendungan Manikin Paket 2 yang berlokasi di Kabupaten Kupang,…
NERACA Jakarta – Mempertimbangkan melemahnya daya beli masyarakat dan perlambatan ekonomi global menjadi alasan PT Astra International Tbk (ASII) memangkas…
NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), emiten rumah sakit PT Cipta Sarana Medika Tbk. (DKHH)…